<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Rugi punya NPWP!!!</title>
	<atom:link href="http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/</link>
	<description>BlogKuTuk Diriku - BlogKuTuk Semua</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Oct 2009 04:13:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Cek Moe</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-98</link>
		<dc:creator>Cek Moe</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 16:40:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-98</guid>
		<description>Setuju!!!!!
Seharusnya pihak kantor pajak yang melaporkan ke kita bahwa mereka telah memotong penghasilan kita (dengan jumlah sekian) untuk pajak. Hari ini kebalikannya yang terjadi... udah penghasilan kita dipotong pajak, eehh... kita masih diwajibkan melaporkan pajak dan masih ditakutin dengan denda lagi............. aneh kan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Setuju!!!!!<br />
Seharusnya pihak kantor pajak yang melaporkan ke kita bahwa mereka telah memotong penghasilan kita (dengan jumlah sekian) untuk pajak. Hari ini kebalikannya yang terjadi&#8230; udah penghasilan kita dipotong pajak, eehh&#8230; kita masih diwajibkan melaporkan pajak dan masih ditakutin dengan denda lagi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. aneh kan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: boju</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-94</link>
		<dc:creator>boju</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 02:37:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-94</guid>
		<description>Pemerintah harus memberikan prioritas kepada pemilik NPWP dengan jaminan hari tua bila mana yang bersangkutan telah memasuki usia pensiun.jangan ditangih lagi tapi dibebaskan dari tangihan pajak .dan bagi mereka yang tidak punya penghasilan namun memiliki npwp harusnya dibantu dgn mencarikan lapangan pekerjaan dan juga memberikan jaminanan kesehatan bila mana WP lagi terganggu kesehatannya sehingga tidak dapat bekerja atau tidak berpenghasilan,seperti diterapkan diluar negeri seperti autralia,singapur dll.Birokrat-birokrat DJP memang kadang menyebalkan selalu cari-cari kesalahan demi mendapatkan uang suap atau sampingan.nyesel kalau dipikir-pikir punya NPWP sekarang.padahal kita mau jadi warga negara yang baik namun ngisi SPT kebelenger.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pemerintah harus memberikan prioritas kepada pemilik NPWP dengan jaminan hari tua bila mana yang bersangkutan telah memasuki usia pensiun.jangan ditangih lagi tapi dibebaskan dari tangihan pajak .dan bagi mereka yang tidak punya penghasilan namun memiliki npwp harusnya dibantu dgn mencarikan lapangan pekerjaan dan juga memberikan jaminanan kesehatan bila mana WP lagi terganggu kesehatannya sehingga tidak dapat bekerja atau tidak berpenghasilan,seperti diterapkan diluar negeri seperti autralia,singapur dll.Birokrat-birokrat DJP memang kadang menyebalkan selalu cari-cari kesalahan demi mendapatkan uang suap atau sampingan.nyesel kalau dipikir-pikir punya NPWP sekarang.padahal kita mau jadi warga negara yang baik namun ngisi SPT kebelenger.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ray</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-88</link>
		<dc:creator>Ray</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 05:25:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-88</guid>
		<description>NPWP cuma membuka jalan untuk para koruptor, kenapa mesti wajib pajak yang harus tertib melaporkan pajaknya sementara para koruptor bebas berkeliaran karena sistem manajement dipemerintahan yang tidak kongkrit dan banyak celah yang mesti dibenahi sebelum cuma memikirkan pemasukan, sungguh kasihan para wajib pajak yang berpenghasilan tidak seberapa harus menyisihkan untuk para koruptor yang mestinya dihukum pancung bukan cuma 5 tahun dikurang masa tahanan dan denda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NPWP cuma membuka jalan untuk para koruptor, kenapa mesti wajib pajak yang harus tertib melaporkan pajaknya sementara para koruptor bebas berkeliaran karena sistem manajement dipemerintahan yang tidak kongkrit dan banyak celah yang mesti dibenahi sebelum cuma memikirkan pemasukan, sungguh kasihan para wajib pajak yang berpenghasilan tidak seberapa harus menyisihkan untuk para koruptor yang mestinya dihukum pancung bukan cuma 5 tahun dikurang masa tahanan dan denda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dharma Taruna</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-85</link>
		<dc:creator>Dharma Taruna</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 14:26:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-85</guid>
		<description>Hmmm bingung juga dengan pajak... Gini pak/buk, nenek saya datang dari belanda dengan ijin tinggal terbatas di Indonesia (KITAS) selama satu tahun. Kemarin dapat surat dari travel yang mengurus KITAS nenek bahwa nenek saya harus mendaftarkan NPWP. Gimana ya, soalnya nenek saya sudah pensiun (81 tahun) dan seluruh biaya hidup nenek saya disini ditanggung oleh paman saya yang sekarang ada di Belanda (warga negara Belanda) dengan mengirimkan uang sekitar 200 Euro/bulan. Kangen sama cucunya, nenek saya ingin di hari tuanya dekat dengan cucunya. Perlu didaftarkan NPWP ga nenek saya pak/bu?. nenek saya ga bekerja di Indonesia.

Kemudian, mengenai kebijakan fiskal, padahal bulan Mei ini saya mau jalan-jalan sama Nenek ke Belanda, saya masih mahasiswa, saya juga ga ingin kena fiskal 2.5 juta itu, yang lumayan memberatkan saya. Saya perlu daftar NPWP ga pak, wong saya masih merengek ke ortu minta duit, atau saya daftar NPWP tapi digolongkan PTKP (Penghasilan tidak kena Pajak)

Makasi pak/buk... saya masih awam sama pajak. Einstein pun lebih memilih tidak menghitung pajak. Tapi saya ingin jadi orang bijak, setelah bekerja nanti...hehehehhe, mohon direposn atau dibalas via mail... Tengkyu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hmmm bingung juga dengan pajak&#8230; Gini pak/buk, nenek saya datang dari belanda dengan ijin tinggal terbatas di Indonesia (KITAS) selama satu tahun. Kemarin dapat surat dari travel yang mengurus KITAS nenek bahwa nenek saya harus mendaftarkan NPWP. Gimana ya, soalnya nenek saya sudah pensiun (81 tahun) dan seluruh biaya hidup nenek saya disini ditanggung oleh paman saya yang sekarang ada di Belanda (warga negara Belanda) dengan mengirimkan uang sekitar 200 Euro/bulan. Kangen sama cucunya, nenek saya ingin di hari tuanya dekat dengan cucunya. Perlu didaftarkan NPWP ga nenek saya pak/bu?. nenek saya ga bekerja di Indonesia.</p>
<p>Kemudian, mengenai kebijakan fiskal, padahal bulan Mei ini saya mau jalan-jalan sama Nenek ke Belanda, saya masih mahasiswa, saya juga ga ingin kena fiskal 2.5 juta itu, yang lumayan memberatkan saya. Saya perlu daftar NPWP ga pak, wong saya masih merengek ke ortu minta duit, atau saya daftar NPWP tapi digolongkan PTKP (Penghasilan tidak kena Pajak)</p>
<p>Makasi pak/buk&#8230; saya masih awam sama pajak. Einstein pun lebih memilih tidak menghitung pajak. Tapi saya ingin jadi orang bijak, setelah bekerja nanti&#8230;hehehehhe, mohon direposn atau dibalas via mail&#8230; Tengkyu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: irwan pahlipi</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-84</link>
		<dc:creator>irwan pahlipi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 02:17:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-84</guid>
		<description>Masalahnya, dinas pajak gak punya database yang baik, jadi gak tahu mana wajib pajak yang sudah bayar atau belum, jadi acuannya cuma pada laporan wp, jadi kalo wp belum lapor, dianggap belum bayar, karena petugas pajak &#039;malas&#039; cek data, nih pemilik npwp kerja di mana, apa kantornya sdh setor atau belum, dll. Kalo cuma sekedar cross check, gak akan ada tagihan pajak seolah-olah belum bayar pajak, yang ada tagihan laporannya, bukan suruh bayar lagi, dan diancam denda segala. 
Itulah mental birokrat, bagi mereka gak penting sudah bayar atau belum, yang penting patuh perintah mereka untuk lapor, dengan ancaman denda belum bayar. Pada prinsipnya cuma mau bikin repot orang lain, untuk tunjukkan betapa berkuasanya pejabat negara. 
Sekarang, npwp dikait2kan dengan fiskal, yang di negara lain gak ada. Negeri ini memang aneh, sekarang bayi baru lahir aja wajib bikin paspor kalo mau dibawa ortunya ke LN, padahal tadinya cukup masuk daftar pengikut. Juga airport tax, gak banyak negara yang mungut airport tax, coba aja cek ke negara tetangga kita kayak SPore, MSia, Thailand, India, dll, gak ada airport tax di sana.
Sebenarnya urusan pajak ini bisa dibuat mudah, dengan sistem yang baik dan konsisten, jadi punya npwp gak terasa seram dan sulit, kayak pesakitan atau narapidana, tapi bermanfaat, untuk negeri kita juga. Bikin sistem yang interkoneksi, setiap WP punya folder masing2, berisi semua data, baik dari pembayaran pajak penghasilan (pun penghasilan WP yang banyak profesi atau usaha sampingan, jadi kalo bikin usaha harus punya npwp pemilik, pegawai, npwp perusahaan, lengkap, dan jadi syarat bikin usaha), pajak jual beli, pajak PBB, kendaraan, dll, semua tercantum di database WP. Jadi kalo ada unsur yang belum bayar, misal pajak penghasilan, tagih dulu ke perusahaan, bukan gencet pegawainya yang dituduh belum bayar. Kita kan tahu, saya kira petugas pajak juga tahu, kalo semua pajak penghasilan dari pegawai/buruh itu disetor perusahaan, bukan dibayar masing2 buruh. Jadi kalo ada yang belum bayar, langsung tagih ke perusahaan, kan gampang. dengan demikian, sistem ini akan lengkapi audit keuangan yang sudah dilakukan, sekaligus kontrol semua unsur yang jadi beban WP, keterkaitan dengan WP lain, perusahaan, dan akan kurangi kesemrawutan data, lebih efisien, efektif.
Jadi gak perlu maksa WP lapor2 tiap tahun, dengan ancaman2, karena yang penting bayarnya, bukan lapornya. Untuk apa lapor kalo gak bayar, atau dimanipulasi, gak jujur. Dengan sistem basis data yg baik, lengkap, dan konsisten, petugas pajak tinggal cek siapa yang belum bayar, cek lagi dengan dokumen dari setiap bukti setoran (yang ini sebenernya cukup dicek waktu setor, logis gak. bener gak, dll waktu audit), yang belum ya ditagih, yang sudah gak perlu lagi, buang2 kertas, bikin emoasi, bikin dosa ngancem2 orang yang gak salah. Nah, sekarang berpulang pada dinas pajak, apa sudah berisi orang2 yang kompeten, jujur, dan berotak apa gak. Apa saja bisa dibuat mudah atau sulit, kalo arogansi kepejabatan yang mau ditonjolkan, ya sistem basis data yang baik gak diperlukan, apalagi dengan kesemrawutan ini akan untungkan pihak2 tertentu. Petugas pajak mesti proaktif, ada koordinasi dan kerjasama yang baik antar instansi terkait. Misalnya, kalo seseorang beli tanah dan rumah, ada AJB, artinya ada pajak pembelian dan penjualan, yang bisa saja disetor PPAT, a/n npwp WP terkait, otomatis masuk ke database WP2 terkait. Nah, setelah balik nama, mestinya, BPN langsung lapor ke dinas pajak, Objek Pajak tsb telah pindah tangan dari WP dengan npwp xxxx ke WP dengan NPWP yyy. Jadi, tagihan berikutnya sudah langsung a/n WP yyy, bukan xxx lagi. Tapi, yang terjadi selama ini, meski sudah balik nama, tagihan SPT PBB masih terus a/n WP lama, gak berubah bertahun2 kalo gak diurus. Kalopun diurus, mesti diberat2kan kasusnya, mestinya tidak terkait urusan duit lagi, tapi dibuat sulit, seakan WP yang butuh, supaya bisa minta duit lagi. Mestinya ini kepentingan dinas pajak untuk tertibkan data, agar setiap orang mudah bayar pajak, dan juga memudahkan kantor pajak sendiri untuk update data, tapi petugas lapangan gak tahu dan gak mau tahu esensi ini, yang penting bisa gencet orang supaya bisa pungli. Jadi, kendala perpajakan di negeri ini, lebih banyak disebabkan oleh mental petugas pajak dan sistem perpajakan itu sendiri, baik sistem data, sistem pembayaran, dan sistem administrasinya yang amburadul. Tapi lagi2, namanya penguasa mesti paling bener, gak mau koreksi diri, semua masyarakat yang salah, masyarakat yang dibebankan, harus urus ini itu, karena petugas pajak gak tahu esensinya menjadi petugas pajak, yang sifatnya melayani dan memudahkan, bukan gencet supaya dapat keuntungan pribad dari ketakutan orang, sok kuasa, arogan, karena, sejujurnya, mereka jalankan pekerjaan bukan untuk bangsa dan negara ini, tapi untuk lihat peluang2 bagi diri sendiri. Kita semua tahulah watak bangsa kita, doyan gencet dan nipu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Masalahnya, dinas pajak gak punya database yang baik, jadi gak tahu mana wajib pajak yang sudah bayar atau belum, jadi acuannya cuma pada laporan wp, jadi kalo wp belum lapor, dianggap belum bayar, karena petugas pajak &#8216;malas&#8217; cek data, nih pemilik npwp kerja di mana, apa kantornya sdh setor atau belum, dll. Kalo cuma sekedar cross check, gak akan ada tagihan pajak seolah-olah belum bayar pajak, yang ada tagihan laporannya, bukan suruh bayar lagi, dan diancam denda segala.<br />
Itulah mental birokrat, bagi mereka gak penting sudah bayar atau belum, yang penting patuh perintah mereka untuk lapor, dengan ancaman denda belum bayar. Pada prinsipnya cuma mau bikin repot orang lain, untuk tunjukkan betapa berkuasanya pejabat negara.<br />
Sekarang, npwp dikait2kan dengan fiskal, yang di negara lain gak ada. Negeri ini memang aneh, sekarang bayi baru lahir aja wajib bikin paspor kalo mau dibawa ortunya ke LN, padahal tadinya cukup masuk daftar pengikut. Juga airport tax, gak banyak negara yang mungut airport tax, coba aja cek ke negara tetangga kita kayak SPore, MSia, Thailand, India, dll, gak ada airport tax di sana.<br />
Sebenarnya urusan pajak ini bisa dibuat mudah, dengan sistem yang baik dan konsisten, jadi punya npwp gak terasa seram dan sulit, kayak pesakitan atau narapidana, tapi bermanfaat, untuk negeri kita juga. Bikin sistem yang interkoneksi, setiap WP punya folder masing2, berisi semua data, baik dari pembayaran pajak penghasilan (pun penghasilan WP yang banyak profesi atau usaha sampingan, jadi kalo bikin usaha harus punya npwp pemilik, pegawai, npwp perusahaan, lengkap, dan jadi syarat bikin usaha), pajak jual beli, pajak PBB, kendaraan, dll, semua tercantum di database WP. Jadi kalo ada unsur yang belum bayar, misal pajak penghasilan, tagih dulu ke perusahaan, bukan gencet pegawainya yang dituduh belum bayar. Kita kan tahu, saya kira petugas pajak juga tahu, kalo semua pajak penghasilan dari pegawai/buruh itu disetor perusahaan, bukan dibayar masing2 buruh. Jadi kalo ada yang belum bayar, langsung tagih ke perusahaan, kan gampang. dengan demikian, sistem ini akan lengkapi audit keuangan yang sudah dilakukan, sekaligus kontrol semua unsur yang jadi beban WP, keterkaitan dengan WP lain, perusahaan, dan akan kurangi kesemrawutan data, lebih efisien, efektif.<br />
Jadi gak perlu maksa WP lapor2 tiap tahun, dengan ancaman2, karena yang penting bayarnya, bukan lapornya. Untuk apa lapor kalo gak bayar, atau dimanipulasi, gak jujur. Dengan sistem basis data yg baik, lengkap, dan konsisten, petugas pajak tinggal cek siapa yang belum bayar, cek lagi dengan dokumen dari setiap bukti setoran (yang ini sebenernya cukup dicek waktu setor, logis gak. bener gak, dll waktu audit), yang belum ya ditagih, yang sudah gak perlu lagi, buang2 kertas, bikin emoasi, bikin dosa ngancem2 orang yang gak salah. Nah, sekarang berpulang pada dinas pajak, apa sudah berisi orang2 yang kompeten, jujur, dan berotak apa gak. Apa saja bisa dibuat mudah atau sulit, kalo arogansi kepejabatan yang mau ditonjolkan, ya sistem basis data yang baik gak diperlukan, apalagi dengan kesemrawutan ini akan untungkan pihak2 tertentu. Petugas pajak mesti proaktif, ada koordinasi dan kerjasama yang baik antar instansi terkait. Misalnya, kalo seseorang beli tanah dan rumah, ada AJB, artinya ada pajak pembelian dan penjualan, yang bisa saja disetor PPAT, a/n npwp WP terkait, otomatis masuk ke database WP2 terkait. Nah, setelah balik nama, mestinya, BPN langsung lapor ke dinas pajak, Objek Pajak tsb telah pindah tangan dari WP dengan npwp xxxx ke WP dengan NPWP yyy. Jadi, tagihan berikutnya sudah langsung a/n WP yyy, bukan xxx lagi. Tapi, yang terjadi selama ini, meski sudah balik nama, tagihan SPT PBB masih terus a/n WP lama, gak berubah bertahun2 kalo gak diurus. Kalopun diurus, mesti diberat2kan kasusnya, mestinya tidak terkait urusan duit lagi, tapi dibuat sulit, seakan WP yang butuh, supaya bisa minta duit lagi. Mestinya ini kepentingan dinas pajak untuk tertibkan data, agar setiap orang mudah bayar pajak, dan juga memudahkan kantor pajak sendiri untuk update data, tapi petugas lapangan gak tahu dan gak mau tahu esensi ini, yang penting bisa gencet orang supaya bisa pungli. Jadi, kendala perpajakan di negeri ini, lebih banyak disebabkan oleh mental petugas pajak dan sistem perpajakan itu sendiri, baik sistem data, sistem pembayaran, dan sistem administrasinya yang amburadul. Tapi lagi2, namanya penguasa mesti paling bener, gak mau koreksi diri, semua masyarakat yang salah, masyarakat yang dibebankan, harus urus ini itu, karena petugas pajak gak tahu esensinya menjadi petugas pajak, yang sifatnya melayani dan memudahkan, bukan gencet supaya dapat keuntungan pribad dari ketakutan orang, sok kuasa, arogan, karena, sejujurnya, mereka jalankan pekerjaan bukan untuk bangsa dan negara ini, tapi untuk lihat peluang2 bagi diri sendiri. Kita semua tahulah watak bangsa kita, doyan gencet dan nipu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rayearth2601</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-82</link>
		<dc:creator>rayearth2601</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 08:33:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-82</guid>
		<description>wah, sekarang akhir tahun lagi ramai ya yang bikin NPWP</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, sekarang akhir tahun lagi ramai ya yang bikin NPWP</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: robin hood</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-81</link>
		<dc:creator>robin hood</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 11:27:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-81</guid>
		<description>capek ngisi SPT tiap tahun, bagi yg belum tahu isi formulir SPT, bujubuneng, banyak istilah aneh disitu dan bohong tuh kalo orang pajak bilang ngisi SPT itu gampang, susah coyyyy gw udah coba download form SPT dan akhirnya gw keblenger sendiri ama cara ngisinya. saran gw, kalo gak perlu perlu amat, gak usah bikin NPWP deh. NPWP nya sih gampang, tinggal bawa KTP aja ke kantor pajak, tapi urusan udahannya yg ribet, tiap tahun, dan seumur hidup ribet nya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>capek ngisi SPT tiap tahun, bagi yg belum tahu isi formulir SPT, bujubuneng, banyak istilah aneh disitu dan bohong tuh kalo orang pajak bilang ngisi SPT itu gampang, susah coyyyy gw udah coba download form SPT dan akhirnya gw keblenger sendiri ama cara ngisinya. saran gw, kalo gak perlu perlu amat, gak usah bikin NPWP deh. NPWP nya sih gampang, tinggal bawa KTP aja ke kantor pajak, tapi urusan udahannya yg ribet, tiap tahun, dan seumur hidup ribet nya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) &#171; Dimas Arif Sumarsono&#8217;s Weblog</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-73</link>
		<dc:creator>NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) &#171; Dimas Arif Sumarsono&#8217;s Weblog</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 04:12:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-73</guid>
		<description>[...] http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/ [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] <a href="http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/" rel="nofollow">http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/</a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Wahyudi</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-70</link>
		<dc:creator>Wahyudi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 06:08:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-70</guid>
		<description>Mhn diKoreksi: yang kena pajak itu pendapatan netto. Dimana bruto dikurangi biaya(utk pembukuan/norma utk pencatatan) br dikurang ptkp(khusus wpop). Jadi utk cth diatas tdk sampe tuh 9jt pajaknya, kecuali brutonya dganti netto.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mhn diKoreksi: yang kena pajak itu pendapatan netto. Dimana bruto dikurangi biaya(utk pembukuan/norma utk pencatatan) br dikurang ptkp(khusus wpop). Jadi utk cth diatas tdk sampe tuh 9jt pajaknya, kecuali brutonya dganti netto.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mahadewa</title>
		<link>http://donald56.wordpress.com/2008/03/19/rugi-punya-npwp/#comment-44</link>
		<dc:creator>mahadewa</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 12:04:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://donald56.wordpress.com/?p=27#comment-44</guid>
		<description>lha kok sekarang ini saya malah bertanya-tanya...

&quot;kok banyak wajib pajak yang bikin NPWP kalau mau ngutang ke bank ya?&quot;

eh kemarin ada juga telepon dari pesuruh &quot;calon bupati&quot;, katanya mau minta &quot;Surat Keterangan Bebas Tunggakan Pajak&quot;...

Lha giliran saya yang bingung...selain karena saya sendiri ngga pernah ngerasa tahu yang namanya surat itu, juga karena alasan sepelenya &quot;kan mau nyalon bupati, disuruh bikin surat itu...&quot;. Terus ketika saya tanya, &quot;Nah biasanya tiap bulan lapor ngga?&quot;, dianya menjawab dengan entengnya, &quot;Ya nggak, wong ngga ada perlunya kok, buat apa...&quot;...

hihihi, miris saya mendengarnya...

-salam kenal dari sesama pegawai DeJePe ...

&lt;em&gt;# Memang sekarang banyak tuch yang minta surat keterangan bebas tunggakan pajak, seharusnya seh mintanya Surat Keterangan Kepatuhan Pelaporan Pajak...
Salam Kenal Juga Yach....

Direktorat Jenderal Pajak Kini Lebih Baik&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lha kok sekarang ini saya malah bertanya-tanya&#8230;</p>
<p>&#8220;kok banyak wajib pajak yang bikin NPWP kalau mau ngutang ke bank ya?&#8221;</p>
<p>eh kemarin ada juga telepon dari pesuruh &#8220;calon bupati&#8221;, katanya mau minta &#8220;Surat Keterangan Bebas Tunggakan Pajak&#8221;&#8230;</p>
<p>Lha giliran saya yang bingung&#8230;selain karena saya sendiri ngga pernah ngerasa tahu yang namanya surat itu, juga karena alasan sepelenya &#8220;kan mau nyalon bupati, disuruh bikin surat itu&#8230;&#8221;. Terus ketika saya tanya, &#8220;Nah biasanya tiap bulan lapor ngga?&#8221;, dianya menjawab dengan entengnya, &#8220;Ya nggak, wong ngga ada perlunya kok, buat apa&#8230;&#8221;&#8230;</p>
<p>hihihi, miris saya mendengarnya&#8230;</p>
<p>-salam kenal dari sesama pegawai DeJePe &#8230;</p>
<p><em># Memang sekarang banyak tuch yang minta surat keterangan bebas tunggakan pajak, seharusnya seh mintanya Surat Keterangan Kepatuhan Pelaporan Pajak&#8230;<br />
Salam Kenal Juga Yach&#8230;.</p>
<p>Direktorat Jenderal Pajak Kini Lebih Baik</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
